Teori Kepribadian Erik H. Erikson
Erik H. Erikson adalah seorang psikolog yang menjadi murid Sigmund Freud
yang beraliran psikoanalisis. Jika Freud lebih menekankan pada aspek biologis
dan orientasi seksual, maka Erikson mengembangkan teori psikoanalisis Freud
dengan menambahkan prinsip psikososial yang berisi aspek-aspek psikologi dan
sosial.
Erikson membagi struktur kepribadian ke dalam tiga bagian sebagai berikut:
1. Ego Kreatif
Ego kreatif merupakan sejumlah kualitas
ego yang dapat menemukan pemecahan kreatif pada setiap masalah baru yang
dihadapi oleh individu. Jika individu mengalami hambatan hidup pada fase
tertentu, ego kreatif akan bereaksi dengan menggunakan kombinasi kesiapan batin
dan kesempatan yang ada. Menurut Erikson, ego yang sempurna ini memiliki tiga
dimensi, yaitu Faktualisasi, Universalitas, dan Aktualitas.
- Faktualisasi adalah kumpulan sumber data dan fakta yang dapat divalidasi berdasarkan hasil interaksi individu dengan lingkungan.
- Universalitas adalah dimensi yang berkaitan dengan sens of reality yang menggabungkan pandangan semesta/alam dengan sesuatu yang dianggap konkrit dan praktis.
- Aktualitas merupakan metode baru dalam berhubungan satu dengan yang lain untuk memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini, ego merupakan realitas masa kini yang berusaha untuk mengembangankan cara baru agar dapat memecahkan masalah yang dihadapi, menjadi lebih efektif, progresif, dan prospektif.
Erikson berpendapat bahwa sebagian
ego berada di dalam posisi kesadaran tidak sadar. Berperan untuk mengorganisir
pengalaman yang terjadi di masa lalu dan memprediksi pengalaman yang akan di
dapatkan di masa depan. Hal ini membuat Erikson menemukan tiga aspek ego yang
saling berhubungan, yaitu:
- Body ego merupakan suatu pengalaman individu mengenai tubuh atau fisiknya sendiri. (Cenderung membandingkan dengan fisik individu lain)
- Ego ideal merupakan gambaran mengenai dengan konsep diri yang sempurna. (Idealnya seperti apa)
- Ego identity merupakan gambaran yang dimiliki individu terkait dengan diri yang melakukan peran sosial pada lingkungan tertentu. (Bagaimana peran individu di lingkungan sosial)
2. Ego Otonomi Fungsional
Ego yang berfokus pada penyesuaian ego
terhadap realita atau dunia luar. Contoh: Hubungan antara ibu dan anaknya.
Erikson berpendapat bahwa hubungan ibu dan anak merupakan bagian penting dalam
perkembangan kepribadian. Ciri khas dari psikologi ego menurut Erikson:
- Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kematangan ego yang sehat.
- Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetik kepribadian.
- Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang tak sadar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan pesan sosial di masa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sistem kerja id.
- Erikson
menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan
diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan berkelanjutan diri dengan masa
lalu dari masa yang akan datang.
3. Pengaruh Masyarakat
Kapasitas yang dibawa sejak lahir
merupakan bagian penting pada individu dalam perkembangan kepribadian, namun
bagian terbesar muncul dan dibentuk oleh masyarakat. Erikson memandang
kepribadian dipengaruhi oleh faktor sosial dan historikal, oleh sebab itu
Erikson menyatakan bahwa potensi yang dimiliki individu adalah ego yang muncul
bersama kelahiran dan harus ditegakkan dalam lingkungan budaya. Anak yang
diasuh dalam budaya masyarakat berbeda, cenderung akan membentuk kepribadian
yang sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan budaya sendiri.
Tahap Perkembangan Kepribadian
Tahapan
|
Usia
/
Tahun
|
Konflik
|
Dasar
|
Patologi inti
|
Relasi yang berpengaruh signifikan
|
Bayi
|
0-1
|
Dasar percaya
Vs
Tidak percaya
|
Harapan
|
Penarikan diri
|
Hubungan dengan figur lekat (biasanya ibu)
|
Masa kanak-kanak awal
|
1-3
|
Otonomi
Vs
Malu-malu
|
Kehendak
|
Kompulsi
|
Orang tua
|
Usia bermain
|
3-6
|
Inisiatif
Vs
Rasa bersalah
|
Tujuan
|
Hambatan
|
Keluarga
|
Usia sekolah
|
6-12
|
Industri
Vs inferioritas
|
Kompetensi
|
Kelembaman/inersia
|
Tetangga/teman sekolah
|
Masa remaja
|
12-19
|
Identitas
Vs
Kebingungan identitas
|
Kesetiaan
|
Penolakan peran
|
Kelompok sebaya
|
Masa awal dewasa
|
20-25
|
Keintiman
Vs
Isolasi
|
Cinta
|
Ekslusivitas
|
Pasangan seksual dan
teman-teman
|
Masa dewasa awal
|
26-64
|
Genertavitas
Vs
Stagnasi
|
Perhatian
|
Penolakan
|
Teman kerja dan rumah tangga
|
Masa lanjut usia
|
65+
|
Integritas
Vs
keputusasaan
|
Kebijaksanaan
|
Diabaikan/diremehkan
|
Semua orang
|
Daftar Pustaka
Rahayu,
Dwi. 2019. Membentuk Karakter Bangsa Usia Dini. Jurnal Kesejahteraan Keluarga
dan Pendidikan. Vol 6 (01), 66-76.
Feist,
Jess and Feist, Gregory J. 2008.
Theories of Personality. Edisi Keenam.
Edisi
Bahasa Indonesia. Yudi Santoso (Penerjemah). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Krismawati,
Yeni. 2014. Teori Psikologi Perkembangan Erik H. Erikson dan Manfaatnya Bagi Tugas Pendidikan Kristen Dewasa Ini.
Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol 2 (01), 46-56.
Gambar
thanks
ReplyDelete