Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ringkasan Materi Psikologi Industri dan Organisasi I (Umum)

    

Kepuasan kerja

Kepuasan kerja merupakan hasil dari rasa suka dan tidak suka yang dimiliki tenaga kerja dalam mempengaruhi kondisi perasaan dan tingkah laku terhadap pekerjaanya.

Terdapat dua unsur penting dalam kepuasan kerja, yakni nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar. Nilai-nilai pekerjaan adalah tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan tugas pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar merupakan kebutuhan yang dimiliki setiap individu sehingga bentuknya akan beragam, jika nilai pekerjaan sesuai maka tenaga kerja akan membantu dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Model-model hubungan kepuasan kerja:

  • Model A

           Kondisi kerja → Sikap kerja → Motivasi kerja → Unjuk-kerja

  • Model B

           Kondisi kerja → Motivasi kerja → Unjuk-kerja → Sikap kerja

  • Model C

           Kondisi kerja I → Motivasi kerja → Sikap kerja

           Kondisi kerja II → Motivasi kerja → Unjuk-kerja

Teori-teori kepuasan kerja

Teori ketidaksesuaian (Locke) mengungkapkan bahwa seseorang akan puas jika kondisi diinginkan  sesuai dengan yang diharapkan. Semakin besar ketidaksesuaian yang diinginkan maka semakin besar  ketidakpuasan yang diterima.

Teori kepuasaan bidang/bagian (Lawler) menyatakan bahwa seseorang akan puas dengan suatu aspek khusus seperti gaji, atasan, dan rekan kerja karena aspek khusus yang diterima akan mempengaruhi kepuasan yang dirasakan.

Teori proses-bertentangan (Landy) mengatakan rasa puas atau tidak puas seseorang akan ditentukan sejauh mana penghayatan emosionalnya terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi. Bila yang dikerjakan seimbang dengan emosionalnya maka ia akan merasa puas, sebaliknya jika situasi dan kondisi yang dihadapi menimbulkan ketidakstabilan aspek emosionalnya maka akan terjadi rasa tidak puas dalam melakukan tugas pekerjaanya.

Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja:

  • Pekerjaan
Sukar atau tidak pekerjaan serta perasaan seseorang di mana keahlianya dibutuhkan dalam melakukan suatu pekerjaan akan meningkatkan/mengurangi kepuasan.

  • Hubungan dengan atasan

Hubungan fungsional yang mencerminkan sejauh mana atasan dapat membantu tenaga kerja dalam memuaskan nilai pekerjaanya. Hubungan ini didasarkan pada ketertarikan interpersonal yang memiliki nilai dasar yang serupa, seperti opini maupun pandangan hidup yang sama.

  • Rekan kerja

Hubungan antar sesama rekan kerja dan atasan, baik sama maupun berbeda pekerjaanya akan mempengaruhi kepuasan kerja.

  • Promosi

Berkaitan dengan ada atau tidak kesempatan memperoleh peningkatan karier selama bekerja.

  • Gaji

Menentukan kepuasan tenaga kerja karena menjadi faktor pemenuhan kebutuhan hidup sehingga akan ada penilaian layak atau tidak dalam menerima upah tersebut.

Strategi meningkatkan kepuasan kerja digunakan untuk membuat tenaga kerja merasakan kepuasan agar meningkatkan efektivitas pekerjaanya di dalam perusahaan. Contoh-contoh strategi meningkatkan kepuasan kerja:

1)      Menaikan gaji.

2)      Meningkatkan jabatan pekerja yang berprestasi.

3)      Kepastian kerja.

4)      Memberi reward (hadiah)/bonus.

5)      Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.

                  6)    Memberikan kompensasi pada pekerja.

Kesehatan dan keselamatan kerja

Keselamatan kerja adalah perlindungan karyawan dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakan yang berkaitan dengan pekerjaan sehingga menyebabkan karyawan merasa yakin untuk bekerja karena dijamin atas keselamatanya selama bekerja.

Tujuan  program kesehatan dan keselamatan kerja adalah menjaga serta meningkatkan efesiensi karyawan dalam melaksanakan tugas dari masing-masing pekerjaanya. Apabila kondisi dalam lingkungan pekerjaanya stabil, diberi jaminan atas hal-hal buruk yang terjadi pada karyawan selama bekerja akan menurunkan rasa khawatir terhadap ancaman sehingga meningkatkan produktivitas karyawan.

Pemerintah Indonesia telah memberlakukan aturan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja pada UU No. 14 Tahun 1969, pasal 9 menyatakan bahwa “Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan, kesehatan, dan pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan harkat, martabat, manusia, moral, dan agama”.

Stress kerja

Stress kerja adalah kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses pikiran, dan kondisi fisik seseorang, apabila stress ini terlalu besar maka dapat mengancam kemampuan seseorang dalam menghadapi lingkungan (Davis dan Newstrom, 1985:195). Namun, tidak semua stress menimbulkan masalah bagi karyawan karena jika tingkatan stress masih cenderung ringan dapat menjadi stimulus bagi karyawan untuk mengembangkan potensi dalam pekerjaanya.

Terdapat empat jenis stress, yaitu:

  1. Eustres (good stres) merupakan stress yang menimbulkan stimulus dan kegairahan sehingga memiliki efek yang bermanfaat bagi individu yang mengalaminya. Contohnya Seperti: tantangan tugas pekerjaan yang muncul membuat karyawan harus meningkatkan tanggung jawab, tekanan waktu, dan hasil tugas berkualitas tinggi.
  2. Distress merupakan stress yang memunculkan efek yang destruktif bagi individu yang mengalaminya seperti: tuntutan dari tugas pekerjaan yang tidak menyenangkan atau berlebihan yang menguras energi individu sehingga membuatnya menjadi lebih mudah jatuh sakit.
  3. Hyperstress, yaitu jenis stress negatif yang muncul ketika seseorang dipaksa melakukan suatu hal di luar kemampuanya. Hypostress merupakan jenis stress yang muncul karena kurangnya stimulasi. Contohnya, stres karena bosan atau karena pekerjaan yang berulang.

Handoko (2001: 201) mengungkapkan bahwa terdapat sejumlahkondisi kerja yang sering menyebabkan stres bagi karyawan,diantaranya adalah:

a)      Beban kerja yang berlebihan

b)      Tekanan atau desakan waktu

c)      Kualitas supervisi yang jelek

d)      Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai

e)      Wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab

f)       Kemenduaan peranan (role ambiguity)

g)      Frustrasi

h)      Konflik antar pribadi dan antar kelompok

i)       Perbedaan antara nilai-nilai perusahaan dan karyawan

j)       Berbagai bentuk perubahan

Stres kerja dapat timbul karena adanya hubungan interaksi dan komunikasi antara individu dan lingkungannya. Selain itu, stress muncul karena adanya jawaban individu yang berwujud emosi, fisiologis, dan pikiran terhadap kondisi, situasi, atau peristiwa yang meminta tuntutan tertentu terhadap diri individu dalam pekerjaannya (Wijono, 2015: 168).

Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, motivasi perilaku bawaan untuk mencapai tujuan, dan mempengaruhi untuk memperbaiki kelompoknya.

Seorang Pemimpin harus memiliki kualitas yang lebih baik dan memiliki yang tidak dimiliki oleh  para pengikutnya. Terdapat 11  ciri pribadi yang diharapkan dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu:

  1. Takwa, menahan diri m]dari perbuatan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada segala Perintah-Nya.
  2. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Sebagai pemuka, orang yang berada didepan, selalu memberi suri teladan kepada yang dipimpinnya.
  3. Ing Madya Mangun Karsa, di tengah-tengah para anak buahnya ikut terjun langsung bekerja sama bahu membahu, memberi dorongan, semangat.
  4. Tut Wuri Handayani, adri belakang selalu memberi dorongan dan arahan kepada apa yang diinginkan anak buahnya.
  5. Waspada Purba Wisesa, Selalu berhati-hati dalam segala kondisi, meneliti dan membuat perkiraan keadaan secara terus menerus.
  6. Ambeg Purba Maarta, pandai menentukan mana yang menurut ruang waktu dan keadaan patut didahulukan.
  7. Prasaja, Bersifat dan bersikap sederhana serta rendah hati dan correct.
  8. Setya, Loyalitas timbal-balik dan bersikap hemat, tidak ceroboh serta memelihara kondisi materil dengan kecermatan.
  9. Gemi Nastiti, hemat dan cermat, sadar dan mampu membatasi penggunaan dan pengeluaran hanya untuk yang benar-benar diperlukan.
  10. Belaka, bersifat dan bersikap terbuka, jujur dan siap menerima segala kritik yang membangun, selalu mawas diri dan selalu siap mempertanggung jawabkan perbuatannya.
  11. Legawa, rela dan ikhlas untuk pada waktunya mengundurkan diri dari fungsi kepemimpinannya dan diganti dengan suatu generasi baru yang telah mewarisi kesepuluh ciri ini.

Pengembangan organisasi

Pengembangan organisasi adalah suatu strategi usaha untuk membantu atau memperbaiki organisasi agar dapat mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, efektif dan efisien. Tujuan utama dari pengembangan organisasi adalah:

  • Manajemen perubahan yang terencana
  • Meningkatkan motivasi staf dan partisipasi
  • Menghapus hambatan yang menghalangi pertumbuhan organisasi
  • Membangun budaya kerja di mana ada perbaikan terus-menerus

Terdapat 3 aspek penting dalam pengembangan organisasi:

  • Produk

merupakan hal penting karena inilah hasil dari suatu bisnis. Hal ini harus menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan organisasi.

  • Proses

merupakan cara dalam melayani pelanggan.

  • Anggota organisasi

akan menjadi ujung tombak perusahaan dalam segala hal.

Karakteristik utama pengembangan organisasi :

  • Planned Change (perubahan yang direncanakan)

Perubahan yang direncanakan ini berkaitan dengan proses-proses pemecahan masalah yang menyangkut metode-metode organisasional dalam penanganan berbagai ancaman dan kesempatan lingkungan, dan proses pembaharuan yang mencerminkan gaya manajemen untuk menghadapi berbagai masalah baru.

  • Perubahan Komprehensif

Satuan analisis pengembangan organisasi adalah keseluruhan organisasi atau satuan unit kerja dalam organisasi yang tidak dapat diidentifikasikan.

  • Perubahan Jangka Panjang

Para ahli pengembangan organisasi menyatakan bahwa proses pengembangan memakan waktu beberapa bulan, atau bahkan dalam berbagai kasus tertentu bisa memakan waktu bertahun-tahun dalam mengimplementasikannya.

  • Partisipasi Pengantar Perubahan

Diperlukan partisipasi pihak ketiga dari luar organisasi. Pengembangan organisasi dirancang untuk meningkatkan efektivitas individu, dan mendorong penyesuaian dan pertumbuhan pribadi. Teknik yang digunakan adalah bimbingan, konseling, dan pelatihan kepekaan. Maka, dibutuhkan seorang konsultan ataupun trainer yang dapat membantu pengembangan organisasi suatu perusahaan.

Perilaku konsumen

Perilaku konsumen adalah studi individual, kelompok atau organisasi dalam proses memilih, mengamankan, menggunakan, menghabiskan suatu produk, pelayanan, pengalaman atau ide-ide untuk kebutuhan kepuasan dan dampak semua proses tersebut pada konsumen dan masyarakat.

Ciri-ciri dan kajian perilaku konsumen:

  1. Perhatian meluas hingga pada hal-hal di luar kegiatan membeli.
  2. Meningkatnya kecenderungan untuk mendekati masalah dari sudut pandang konsumen.
  3. Perilaku konsumen dikaji dengan tujuan ilmiah murni.
  4. Mengonsumsi barang dan jasa merupakan aspek yang penting dari perilaku manusia.
  5. Semakin besar kajian terhadap isu-isu sosial bahwa psikologi konsumen berfokus pada konsumen sebagai konsumen, objek ilmiah.
Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen:

Faktor internal

  • Motivasi
  • Kepribadian
  • Pembelanjaan
  • Sikap
  • Persepsi Konsumen
Faktor eksternal
  • Kelompok rujukan
  • Kelas sosial
  • Budaya
  • Komunikasi

Coorporate Social Responsibility (CSR)

CSR merupakan cermin industri yang bukan hanya peduli terhadap sosial melainkan juga lingkungan. Secaraglobal, CSR dianggap penting dalam menciptakan corporate image dalam memberikan keunggulan kompetitif dandiferensiasi serta untuk kesuksesan bisnis terkemuka (Maruf, 2013). CSR bertujuan menstabilkan kekuatan industri, mencegah terjadinya dan perluasan risiko di kawasan masyarakat industri (Chiu & Hsu, 2010).

Corporate image mencakup tiga hal yaitu identitas perusahaan, individualitas dan komunikasi pemasaran.Tiga rangkaian tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan oleh sebuah industri, sedangkan CSR itu sendirimerupakan bagian dari individualitas perusahaan sehingga berpengaruh terhadap corporate image.

Budiartha (2008) mengelompokkan tanggung jawab sosial perusahaan ke dalam empat kelompok yaitu sebagai berikut:

  • Economis Responsibility

Secara ekonomi tanggung jawab Perusahaan adalah menghasilkan barang dan jasa untuk masyarakat dengan harga yang wajar dan memberikan keuntungan bagi Perusahaan.

  • Legal Responsibility

Dimanapun Perusahaan beroperasi tentu saja tidak akan lepas dari peraturan dan undang-undang yang berlaku di tempat tersebut terutama peraturan yang mengatur kegiatan bisnis. Peraturan tersebut terutama yang berkaitan dengan pengaturan lingkungan dan perlindungan konsumen.

  • Ethical Responsibility

Perusahaan yang didirikan tidak hanya patuh dan taat pada hukum yang berlaku namun juga harus memiliki etika.

  • Discrestionary Responsibility

Tanggung jawab ini sifatnya sukarela seperti berhubungan dengan masyarakat, menjadi warga negara yang baik, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Ashar, Sunyoto M. (2020). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Dewi, R., Asih, Gusti Y., dan Widhiastuti, H. (2018). Stress Kerja. Semarang: Semarang University Press.

Marliani, Rosleny. (2015). Psikologi Industri & Organisasi. Bandung: Pustaka Setia.

Hamdani, Anwar., Awatara., (2016). Pengaruh Tanggung Jawab Sosial Perusahaan terhadap Komitmen Organisasi dan Kinerja Karyawan. Jurnal Aplikasi Manajemen. Vol 14 (2).

Gambar

http://pusatreview.com/wp-content/uploads/2020/04/perusahaan.png


Post a Comment for "Ringkasan Materi Psikologi Industri dan Organisasi I (Umum)"